Life Story

Menilik Jam Gadang Sejenak di Bukittinggi

Persinggahan saya di Bukittinggi berawal dari tugas dari kantor saya PT. Kirana Megatara untuk implementasi proyek di salah satu cabang pabrik yang berlokasi tepat di perbatasan Provinsi Jambi dan Sumatera Barat yakni PT. Djambi Waras Jujuhan. Pada awalnya, saya menemui persimpangan dalam menentukan akan naik pesawat ke Padang atau ke Jambi. Dengan menganalisa kondisi jalan ( dari Jambi cuma liat sawit mulu ), waktu tempuh ( sama sih dari Padang dan Jambi waktunya ) dan harga tiket (perusahaan sih yang milih) serta obyek yang bisa disinggahi, akhirnya memilih Padang sebagai tujuan tiket pesawat ( padahal emang penginnya lewat Padang). Perjalanan dimulai dari Bandara Internasional Sukarno Hatta Cengkareng untuk menuju Bandara Minangkabau di kota Padang. Ini pertama kalinya saya menuju kampuang nan jauh di mato eh Padang maksudnya. Yang ada dalam bayangan saya adalah saya akan melihat rumah gadang dimana-mana. Dan ternyata bayangan saya benar seenggaknya di bandara saja, karena sudah banyak rumah modern. Dari Padang ke lokasi pabrik di Jujuhan sebenarnya bisa ditempuh dalam waktu 5 jam saja. Tapi saya mengambil rute yang tidak biasa dan anti mainstream yakni melewati Bukittinggi, alasan supaya bisa ke Jam Gadang dan makan nasi kapau (hahaha *senyum licik). Perjalanan dari Padang menuju Bukittingi menempuh perjalanan sekitar 3-4 jam.  Saat perjalanan menuju Bukittinggi dan sebelum kota Padang Panjang, terlihat air terjuan Lembah Anai, kata orang Lembah Anai tak akan melepaskan orang yang ada di dekatnya, dan akhirnya saya tertangkap sehingga harus menikmati panorama lembah anai walau hanya dari dalam mobil.

Air Terjun Lembah Anai
Air Terjun Lembah Anai

Setelah lokasi air terjun ini, terdapat pula kolam renan yang bisa dinikmati secara umum, cocok bagi yang ingin singgah di sela perjalanan menuju Padang Panjang atau Padang. Bagi anda penggemar roman Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Buya Hamka, pasti tak asing dengan Lembah Anai ini karena menjadi salah satu setting lokasi dalam roman itu.

Lepas dari jeratan Lembah Anai, perjalanan berlanjut ke Padang Panjang, bagi Anda yang suka kuliner, tak ada salahnya anda fokus di sebelah kiri dalam arah ke Bukittinggi, karena anda akan menemukan Sate Padang Mak Syukur yang sudah terkenal dan punya cabang di Jakarta, walau sudah banyak cabangnya, gak ada salahnya kan mengunjungi yang original. Selain itu bagi anda yang mencari oleh-oleh, banyak di pinggir jalan pedagang berjualan keripik Sanjai atau keripik pedas balado.

Setelah perjalanan yang melelahkan tidur di mobil, sampai juga akhirnya di kota Bukittinggi. Di kota yang pernah menjadi ibukota Pemerintahan Darurat Militer Indonesia ini, destinasi yang langsung dituju adalah Jam Gadang. Asal tahu saja mesin yang dipakai oleh Jam Gadang ini cuma diproduksi 2 di dunia yang fana ini. Mesin satunya lagi dipakai oleh Big Ben yang ada di kota London, bangga bukan? Pada bagian lonceng tertera pabrik pembuat jam yaitu Vortmann Relinghausen. Vortman adalah nama belakang pembuat jam, Benhard Vortmann, sedangkan Recklinghausen adalah nama kota di Jerman yang merupakan tempat diproduksinya mesin jam pada tahun 1892. Tempat Jam Gadang ini berada juga menjadi Titik 0 km kota Bukittinggi.

Jam Gadang Bukittingi
Jam Gadang Bukittingi
Jam Gadang Bukittingi
Jam Gadang Bukittingi

Kata wikipedia, ini sejarah Jam Gadang.

Jam Gadang selesai dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazid Rajo Mangkuto, sedangkan peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang pada saat itu masih berusia 6 tahun.

Pembangunan Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak dibangun dan sejak diresmikannya, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai penanda atau markah tanah dan juga titik nol Kota Bukittinggi.[1]

Sejak didirikan, menara jam ini telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk atapnya. Awal didirikan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, atap pada Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya. Kemudian pada masa pendudukan Jepang diubah menjadi bentuk pagoda. Terakhir setelah Indonesia merdeka, atap pada Jam Gadang diubah menjadi bentuk gonjong atau atap pada rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang.

Renovasi terakhir yang dilakukan pada Jam Gadang adalah pada tahun 2010 oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan dukungan pemerintah kota Bukittinggi dan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Renovasi tersebut diresmikan tepat pada ulang tahun kota Bukittinggi yang ke-262 pada tanggal 22 Desember 2010. ( wikipedia )

Jam Gadang ini menggunakan angka romawi sebagai penunjuk jam dan memiliki satu fakta unik yakni angka 4 bukan menggunakan IV melainkan IIII, untuk alasan kenapanya, saat ini masih menjadi misteri, mungkin hanya Allah dan pembuatnya yang tahu.

Di sekitar Jam Gadang terdapat pasar yang bisa anda kunjungi untuk berburu oleh-oleh. Untuk anda yang ingin makan nasi Kapau, jangan lupa untuk mengunjungi Nasi Kapau Uni Lis yang berlokasi di pasar belakang tak jauh dari Jam Gadang.

Nasi Kapau Uni Lies
Nasi Kapau Uni Lies
Nasi Kapau Uni Lies
Nasi Kapau Uni Lies

Setelah kenyang menyantap lezatnya nasi kapau Uni Lis yang rancak bana, perjalanan harus berlanjut menuju Jujuhan agar tidak kemalaman. Namun jika kalian masih punya banyak waktu di Bukittinggi, tak ada salahnya untuk mengunjungi Museum Bung Hatta, Goa Jepang dan tak lupa Ngarai Sianok. Bagi pecinta kuliner cobalah bertanya dimana lokasi Itiak Lado Mudo, salah satu kuliner yang wajib dicicipi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s