Vocalista Angel, Anak-anak Klaten yang Juara Dunia

Saya sebagai seorang warga Klaten khususnya dan warga Indonesia pada umumnya sedikit berbangga ketika membaca mengenai Vocalista Angel, anak-anak yang berasal dari Klaten membawa harum nama Indonesia di tingkat dunia. Siapa yang sangka anak-anak ini mampu menjadi pemenang pada ajang Juarai Festival Paduan Suara Anak Dunia pada kategori Folklore dengan Koreografi. Festival yang diadakan di gedung China Convention and Exhibition Centre, Shaoxing, China ini Vocalista Angel mengalahkan 475 kontestan lain dari seluruh dunia.

Kalahkan 475 Pesaing, Vocalista Angels Juarai Festival Paduan Suara Anak Dunia

Detik News – Jakarta -Lagu Indonesia Raya berkumandang di gedung China Convention and Exhibition Centre, Shaoxing, Senin (19/7/2010), mengiringi kemenangan paduan suara anak Vocalista Angels. Kemeriahan tampak memenuhi ruangan menyambut perolehan medali emas kontestan asal Indonesia tersebut di ajang festival paduan suara anak tingkat dunia itu.
Demikianlah suasana yang digambarkan oleh CA Tersierra Rosa, pemimpin rombongan Vocalista Angels, kelompok paduan suara anak asal Klaten, Jawa Tengah (Jateng), yang menjadi wakil Indonesia di festival internasional itu. Vocalista Angels merebut juara untuk kategori folklore dengan koreografi.
“Selain menjuarai dan meraih medali emas kategori folklore dengan koregrafi, mereka juga memperoleh medali emas untuk kategori paduan suara Anak-anak,” ujar Tersierra Rosa atau yang akrab dipanggil Thea dalam rilis yang diterima detikcom, Selasa (20/7/2010).
Menurut Thea, pada kejuaraan kali ini, Vocalista Angels mengusung beberapa lagu daerah seperti “Montor-montor Cilik”, “Romo Ono Maling,” “Go Jago,” dan lagu “Toki Tifa” dari Maluku. Selain itu, paduan suara yang berisi 27 anak-anak dari usai 8-18 tahun ini juga membawakan lagu-lagu asing yaitu “Las Ammarilas” dari Spanyol dan “Tola” dari Africa.
“VA yang dimotori oleh konduktor Yason Christy Pranowo tampil sangat memikat sehingga mendapatkan tepuk tangan yang sangat riuh di setiap penampilannya, bahkan standing applaus,” ungkap Thea sambil menambahkan prestasi Vocalista Angels juga menjadikan Indonesia sebagai juara umum kedua di pentas paduan suara dunia ke-6 ini.

Didatangi Polisi

Vocalista Angels dilepas keberangkatannya oleh Wakil Presiden (Wapres) Boediono pada 12 Juli dan tiba di Shaoxing pada 13 Juli. Sesampainya di Shaoxing, anak-anak yang berasal dari keluarga menengah ke bawah itu langsung berlatih kembali sebelum festival dimulai.
Latihan dilakukan dengan cara menghibur masyarakat di sekitar taman Kota di dekat hotel mereka menginap. Paling sedikit mereka melakukan latihan 2 jam di taman atau pun tempat terbuka yang kadang-kadang didatangi Polisi setempat karena membuat keramaian di tempat umum.

“Meski akhirnya polisi ikut menikmati sajian nyanyian mereka. Ini disebabkan sulitnya untuk mendapatkan tempat latihan yang memadai,” tutur Thea.
Kemenangan kelompok paduan suara Vocalista Angels juga sempat disertai dengan beberapa kendala. Misalnya, saat melakukan registrasi, nama Vocalista Angels tidak ada di dalam daftar panitia, sehingga official harus menghubungi penyelenggara yaitu Interkultur dan penyelenggara lokal.
“Namun patut diacungi jempol kepada pemerintah Cina yang bersungguh-sungguh mempersiapkan Kejauaran Dunia Paduan suara yang ke-6 ini karena bertepatan dengan ulang tahun ke-2500 tahun kota air Shaoxing,” puji Thea.
Peringkat ke-41 Dunia
Sebelumnya, Vocalista Angels telah menjuarai berbagai kejuaraan paduan suara tingkat international antara lain pada World Choir Championship di Korea Selatan tahun 2009. Saat itu 2 medali emas berhasil disabet untuk kategori Anak-anak dan Folklore.
Untuk kategori paduan suara anak, sejak 2008 Vocalista Angels menempati urutan 17 dunia. Adapun untuk tingkat dunia, Indonesia berada pada urutan yang cukup bergengsi, yakni peringkat 41 dalam semua jenjang usia dan semua Jenis yang dilombakan (children choir, Youth choir, Chamber choir, Male Choir, Female choir, Mix choir, Jazz, Spiritual, dan Folklore).
Kini, lanjut Thea, kelompok paduan suara yang dipimpinnya akan berlatih untuk kejuaraan dunia paduan suara anak ke-7. “Ada dukungan dari pemda atau tidak, Vocalista Angels tetap berlatih untuk mempersiapkan Kejuaraan Dunia ke-7 di Ohio, Amerika Serikat,” cetusnya.

Paduan Suara Anak Vocalista Angels, Klaten Juara Dunia di Shaoxing, Cina
Vocalista Angel
Kumandang lagu Indonesia Raya terdengar gempita di Gedung China Textile International Convention and Exhibition Centre, 19 Juli saat Paduan Suara Anak Vocalista Angels menjuarai Kejuaraan Dunia (Grand Champion) kategori Folklore dengan Koreografi. Paduan suara anak-anak dari Klaten yang dilepas oleh Wakil Presiden RI Bpk. Prof. Dr. Boediono saat keberangkatan tgl 12 juli 2010 ini, bersaing dengan lebih dari 475 paduan suara yang berasal dari 80 negara dan sekitar 20 ribu peserta. Selain menjuarai dan meraih medali emas kategori folklore dengan koregrafi, mereka juga memperoleh medali emas untuk kategori Paduan Suara Anak-anak.

Pada kejuaraan ini Vocalista Angels membawakan beberapa lagu daerah dan juga lagu berbahasa asing yaitu Las Ammarilas dari Spanyol dan Tola dari Africa. Untuk lagu daerah, dengan gaya mereka mengusung lagu Montor-montor Cilik, Romo Ono Maling, Go Jago, dan lagu Toki Tifa dari Maluku. VA yg dimotori oleh konduktor Yason Christy Pranowo tampil sangat memikat sehingga mendapatkan tepuk tangan yang sangat riuh di setiap penampilanny, bahkan standing applaus.

“Sesuai dengan pesan Wapres, Vocalista Angels bertanding dan bernyanyi dengan Hati sehingga gelar terhormat sebagai Juara Dunia Paduan Suara Anak dan medali diraih dengan kebanggaan sebagai anak-anak Indonesia”, jelas C.A. Tersierra Rosa, pimpinannya. Prestasi Vocalista Angels di Shaoxing ini juga menjadikan Indonesia sebagai Juara Umum Kedua dalam Kejuaraan Paduan Suara Dunia ke 6 ini.

Dengan anggota berjumlah 27 anak, berusia antara 8 hingga 18 tahun dan official berjumlah 8 orang, anak-anak dari keluarga menengah ke bawah ini ini tiba di Shaoxing Cina tgl 13 Juli dan langsung berlatih dan menghibur masyarakat di sekitar taman Kota di dekat hotel mereka menginap. Selama di negara tirai bambu, paling sedikit mereka melakukan latihan 2 jam di taman ataupun tempat terbuka yang kadang-kadang didatangi Polisi setempat karena membuat keramaian di tempat umum, meski akhirnya polisi ikut menikmati sajian nyanyian mereka. Ini disebabkan sulitnya untuk mendapatkan tempat latihan yang memadai.

Kedatangan Paduan Suara yang dikelola secara swadaya oleh Ibu Thea, panggilan akrab anak-anak Vocalista Angels kepada pimpinannya, telah menjadi buruan wartawan setempat dikarenakan sangat populernya nama Vocalista Angels yang telah menjuarai berbagai kejuaraan paduan suara tingkat International antara lain pada World Choir Championship di Korea Selatan tahun 2009 dengan 2 medali emas untuk kategori Anak-anak dan Folklore. Selain mengikuti kejuaraan Dunia, Paduan Suara Anak dari Klaten hasil binaan Kodam Jaya/Jayakarta tampil pada malam Konser Persahabatan di Shaoxing Theater yang dihadiri oleh Walikota Shaoxing. Juga, pentas bersama dengan para pemenang lainnya pada Konser Penutupan di Gedung China Textile International Convention and Exhibition Centre.

Banyak kendala yang dialami oleh Paduan Suara dalam Kejuaraan Dunia kali ini. Misalnya di saat registrasi, nama Vocalista Angels tidak terdapat di dalam daftar Panitia, sehingga official harus bekerja ekstra keras menghubungi penyelenggara yaitu Interkultur dan penyelenggara lokal . Selain itu, banyak Volunteer dari Republik Rakyat Cina yang tidak dapat berbahasa Inggris. Namun patut diacungi jempol kepada pemerintah Cina yang bersungguh-sungguh mempersiapkan Kejauaran Dunia Paduan suara yang ke-6 ini karena bertepatan dengan ulang tahun ke-2500 tahun kota air Shaoxing.

Dalam kancah paduan suara dunia, orang tidak banyak mengetahui bahwa Indonesia menempati urutan yang sangat bergengsi, yakni peringkat 41 Dunia dalam semua jenjang usia ( artinya dari anak- anak sampai kategori dewasa ) dan semua Jenis yang dilombakan ( children choir, Youth choir, Chamber choir, Male Choir, Female choir, Mixed choir, Jazz, Spiritual, dan Folklore ). Untuk kategori Paduan Suara Anak, sejak 2008 Vocalista Angels menempati urutan 17 dunia. Tentu saja, dengan gelar baru sebagai Grand Champion di Shaoxing, Cina, Vocalista Angels akan menempati ranking dunia lebih tinggi lagi. Selanjutnya Vocalista Angels akan berlatih untuk mempersiapkan Kejuaraan Dunia ke-7 di Ohio, Amerika,” tambahnya.

Vocalista angel adalah kumpulan paduan suara 39 anak yang berasal dari klaten. patut dicatat adalah perjuangan dan usaha tak kenal lelah mereka mewujudkan mimpi untuk bernyanyi dan berprestasi, meski mereka bukan berasal dari keluarga yang mampu.
visi mereka :menjadi duta budaya bangsa Indonesia.

PRESTASI
1998 – Juara 1 Lomba Accapella Anak di Salatiga
1999 – Juara 1 Lomba Accapella Anak di Salatiga
2000 - Juara 1 Lomba Accapella Anak di Salatiga
2002 - Juara 1 Lomba PERPARAWI Jawa Tengah di Magelang (dan mewakili Jawa Tengah di PESPARAWI Nasional VII di Makasar)
2003 – EXEBHISI Lagu Daerah Terbaik Tingkat Nasional
2005 – Juara 1 Lomba Paduan Suara Anak GPIB di Yogyakarta dan Jawa Tengah
2005 – Juara 1 Lomba PERPARAWI Jawa Tengah di Jepara (dan mewakili provinsi Jawa Tengah di PESPARAWI Nasional di Medan, Sumatera Utara)
2006 – Juara 1 Kategori A Lomba PESPARAWI Nasional VIII di Medan, Sumatera Utara
2007 – Juara 1 (Champion) Kategori Anak Lomba 1st Asian Choir Games di Jakarta
RANKING DUNIA versi Musica Mundi
Posisi 18 dari: Top 50 Children’s and Youth Choirs
Posisi 125 dari: Top 1000 Choirs

Juara 1 (Champion) Kategori Anak Lomba 1st Asian Choir Games di Jakarta


vocalista angel

perjuangan di ASIAN CHOIR GAMES


Tampil di depan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla



Sumber:
Kodam Jaya
i-comers.com
Warta Digital

HIK (Hidangan Istimewa Klaten)

Iseng-iseng nyari lagu-lagunya mas Didi Kempot yang kira-kira belum saya punyai eh akhirnya malah menemukan lagu yang settingnya di kabupaten asal saya yakni Kabupaten Klaten. Judulnya yakni HIK (Hidangan Istimewa Klaten). Mencerminkan sekali Klaten yang sangat banyak sekali warung hik yakni warung yang mempunyai hidangan spesial yakni nasi kucing (nasi plus sambal dan bandeng), susu dan teh jahe, dan juga gorengan yang dipanggang lagi.

Berikut lirik lagu Didi Kempot – Warung HIK Terminal Klaten

Lirak lirik neng warung hik, Tak sawang bakule mesem.
Pesen wedhang susu jahe karo mangan sego bandeng.
Naliko aku kewengen kodanan neng kutho Klaten.
Mampir warung hik aku keluwen.

Mesam mesem neng warung hik
Tak cedaki malah ngguyu.
Ngedep sekul kucing telu, tepas tepas mbakar tahu.

Rambute disemir abang
ra peduli sing do nyawang.
Neng warung hik terminal Klaten.

reff:
Hik H..I..K.. Hidangan Istimewa Klaten
Lirak lirik lungguh ijen neng warung hik kutho Klaten
Hik H..I..K.. Hidangan Istimewa Klaten
Golek duit kudu tlaten mulih esuk ngetung bathen.

Mesam mesem neng warung hik
Tak cedaki malah ngguyu.
Ngedep sekul kucing telu, tepas tepas mbakar tahu.

Rambute disemir abang
ra peduli sing do nyawang.
Neng warung hik terminal Klaten.

Hik H..I..K.. Hidangan Istimewa Klaten
Lirak lirik lungguh ijen neng warung hik kutho Klaten
Hik H..I..K.. Hidangan Istimewa Klaten
Golek duit kudu tlaten mulih esuk ngetung bathen.

Kalau ingin download lagunya disini.

Rumahku, Kabupaten Klaten

Lambang Kabupaten Klaten

Kabupaten Klaten (Bahasa Jawa: Klathèn), adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Klaten. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Boyolali di utara, Kabupaten Sukoharjo di timur, serta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di selatan dan barat. Kompleks Candi Prambanan, salah satu kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, berada di Kabupaten Klaten.

Geografi

Sebagian besar wilayah kabupaten ini adalah dataran rendah dan tanah bergelombang. Bagian barat laut merupakan pegunungan, bagian dari sistem Gunung Merapi. Ibukota kabupaten ini berada di jalur utama Solo-Yogyakarta.
Peta Lokasi Klaten

Pembagian Administrasi

Kabupaten Klaten terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Ibukota kabupaten ini adalah Klaten, yang sebenarnya terdiri atas tiga kecamatan yaitu Klaten Utara, Klaten Tengah, dan Klaten Selatan. Klaten dulunya merupakan Kota Administratif, namun sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, tidak dikenal adanya kota administratif, dan Kota Administratif Klaten kembali menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Klaten. Kecamatan di Klaten :

  • Bayat
  • Cawas
  • Ceper
  • Delanggu
  • Gantiwarno
  • Jatinom
  • Jogonalan
  • Juwiring
  • Kalikotes
  • Karanganom
  • Karangdowo
  • Karangnongko
  • Kebonarum
  • Kemalang
  • Klaten Utara
  • Klaten Tengah
  • Klaten Selatan
  • Manisrenggo
  • Ngawen
  • Pedan
  • Polanharjo
  • Prambanan
  • Trucuk
  • Tulung
  • Wedi
  • Wonosari

Sejarah

Asal mula nama
Ada dua versi yang menyebut tentang asal muasal nama Klaten. Versi pertama mengatakan bahwa Klaten berasal dari kata kelati atau buah bibir. Kata kelati ini kemudian mengalami disimilasi menjadi Klaten. Klaten sejak dulu merupakan daerah yang terkenal karena kesuburannya.
Versi kedua menyebutkan Klaten berasal dari kota Melati. Kata Melati kemudian berubah menjadi Mlati. Berubah lagi jadi kata Klati, sehingga memudahkan ucapan kata Klati berubah menjadi kata Klaten. Versi ke dua ini atas dasar kata-kata orangtua sebagaimana dikutip dalam buku Klaten dari Masa ke Masa yang diterbitkan Bagian Ortakala Setda Kab. Dati II Klaten Tahun 1992/1993.
Melati adalah nama seorang kyai yang pada kurang lebih 560 tahun yang lalu datang di suatu tempat yang masih berupa hutan belantara. Kyai Melati Sekolekan, nama lengkap dari Kyai Melati, menetap di tempat itu. Semakin lama semakin banyak orang yang tinggal di sekitarnya, dan daerah itulah yang menjadi Klaten yang sekarang.
Dukuh tempat tinggal Kyai Melati oleh masyarakat setempat lantas diberi nama Sekolekan. Nama Sekolekan adalah bagian darinama Kyai Melati Sekolekan. Sekolekan kemudian berkembang menjadi Sekalekan, sehingga sampai sekarang nama dukuh itu adalah Sekalekan. Di Dukuh Sekalekan itu pula Kyai Melati dimakamkan.
Kyai Melati dikenal sebagai orang berbudi luhur dan lagi sakti. Karena kesaktiannya itu perkampungan itu aman dari gangguan perampok. Setelah meninggal dunia, Kyai Melati dikuburkan di dekat tempat tinggalnya.
Sampai sekarang sejarah kota Klaten masih menjadi silang pendapat. Belum ada penelitian yang dapat menyebutkan kapan persisnya kota Klaten berdiri. Selama ini kegiatan peringatan tentang Klaten diambil dari hari jadi pemerintah Kab Klaten, yang dimulai dari awal terbentuknya pemerintahan daerah otonom tahun 1950.
Hari jadi
Daerah Kabupaten Klaten semula adalah bekas daerah swapraja Surakarta. Kasunanan Surakarta terdiri dari beberapa daerah yang merupakan suatu kabupaten. Setiap kabupaten terdiri atas beberapa distrik. Susunan penguasa kabupaten terdiri dari Bupati, Kliwon, Mantri Jaksa, Mantri Kabupaten, Mantri Pembantu, Mantri Distrik, Penghulu, Carik Kabupaten angka 1 dan 2, Lurah Langsik, dan Langsir.
Susunan penguasa Distrik terdiri dari Pamong Distrik (1 orang), Mantri Distrik (5), Carik Kepanawon angka 1 dan 2 (2 orang), Carik Kemanten (5 orang), Kajineman (15 orang).
Pada zaman penjajahan Belanda, tahun 1749, terjadi perubahan susunan penguasa di Kabupaten dan di Distrik. Untuk Jawa dan Madura, semua propinsi dibagi atas kabupaten-kabupaten, kabupaten terbagi atas distrik-distrik, dan setiap distrik dikepalai oleh seorang wedono.
Pada tahun 1847 bentuk Kabupaten diubah menjadi Kabupaten Pulisi. Maksud dan tujuan pembentukan Kabupaten Pulisi adalah di samping Kabupaten itu menjalankan fungsi pemerintahan, ditugaskan pula agar dapat menjaga ketertiban dan keamanan dengan ditentukan batas-batas kekuasa wilayahnya.
Berdasarkan Nawala Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana Senopati Ing Alaga Abdul Rahman Sayidin Panata Gama VII, Senin Legi 23 Jumadikir Tahun Dal 1775 atau 5 Juni 1847 dalam bab 13 disebutkan :
“……………………………….” KratonDalam Surakarta Adiningrat Nganakake Kabupaten cacah enem.
“………………………………” Kabupaten cacah enem iku Nagara Surakarta, Kartosuro, Klaten, Boyolali, Ampel, lan Sragen.
“………………………………” Para Tumenggung kewajiban rumeksa amrih tata tentreme bawahe dhewe-dhewe serta padha kebawah marang Raden Adipati.
Perubahan luas daerah
Luas daerah Kabupaten Klaten mengalami beberapa kali perubahan. Klaten pada mulanya adalah tanpa kecamatan Jatinom dan Polanharjo. Kedua kecamatan semula merupakan wilayah kabupaten Boyolali, dan baru digabungkan tanggal 11 Oktober 1895.
Kelurahan
Semenjak terbentuknya onderdistrik, daerah onderdistrik terdiri dari beberapa dukuh. Sebagian dukuh-dukuh itu merupakan daerah kekuasaan seorang Demang. Gaji seorang Demang berupa tanah pituas.
Luas tanah pituas antara Demang yang satu dan yang lainnya berbeda-beda, sesuai dengan besar kecilnya jasa yang diberikan kepada Kasunanan. Penerima terkecil dinamakan Bekel, kemudian Demang, Ronggo, dan terbesar disebut Ngabei.
Pada tahun 1914 dibentuk kelurahan, yang merupakan penggabungan dari beberapa dukuh. Tanah pituas yang semula untuk gaji Bekel, Demang, Ronggo, dan Ngabei, diberikan pada kelurahan sebagai milik desa yang kemudian menjadi lungguh pamong desa. Struktur organisasi Kelurahan terdiri dari Lurah, Kamituwa, Carik, Kebayan, Modin, dan Ulu-ulu.
Tahun 1957 dilakukan pemblengketan atau penggabungan beberapa kelurahan, atas ketentuan kasunanan bahwa setiap Kelurahan paling sedikit harus berpenduduk 1300 orang. Peristiwa itu dikenal sebagai masa kompleks.
Sebelumnya, di Klaten telah dilakukan penggabungan karena alasan lain. Masa kompleks di Klaten telah terjadi sejak tahun 1917. di beberapa onderdistrik, penggabungan Kelurahan dilakukan karena beberapa Kelurahan tidak mempunyai tanah untuk kas desa maupun untuk lungguh pada pegawainya.

Pariwisata

  • Candi Prambanan
  • Candi Sewu

Di Jatinom, upacara tradisional Sebaran Apem Yaqowiyu diadakan setiap bulan Sapar. Di Palar, Trucuk, Klaten bersemayam pujangga dari Kraton Solo bernama Ronggo Warsito. Keindahan alam dapat dinikmati di daerah Deles, sebuah tempat sejuk di lereng Gunung Merapi. Rowo Jombor tempat favorit untuk melihat waduk. Terdapat juga Museum Gula, di Gondang Winangun yang terletak sepanjang jalan Klaten – Yogyakarta.
Di Kecamatan Tulung sebelah timur terdapat serangkaian tempat bermunculannya mata air pegunungan yang mengalir sepanjang tahun, dan dijadikan obyek wisata. Wisata yang bisa dinikmati di sana adalah wisata memancing dan pemandian air segar. Banyak tempat pemandian yang bisa dikunjungi baik yang berbayar maupun tidak berbayar, seperti Umbul Nilo (gratis), Umbul Penganten (gratis), Umbul Ponggok (berbayar), Umbul Cokro (berbayar) dan umbul lainnya. Namun kalau untuk wisata memancing semua harus berbayar karena dikelola oleh usaha warga. Letak pemancingan yang terkenal adalah di desa Janti. Sambil memancing pengunjung dapat juga menikmati masakan ikan nila, lele, atau mas goreng berbumbu sambel khas dengan harga sangat terjangkau. Tiap hari libur perkampungan ini sering mengalami kemacetan karena membludaknya pengunjung dari kota Solo, Semarang dan Yogya.
Di Kecamatan Bayat, Klaten, tepatnya di kelurahan Paseban, Bayat, Klaten terdapat Makam Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran atau Sunan Tembayat yang memiliki desain arsitektur gerbang gapura Majapahit. Makam ini menjadi salah satu tempat wisata ziarah Para Wali. Pengunjung dapat memarkir kendaraan di areal parkir serta halaman Kelurahan yang cukup luas. Setelah mendaki sekitar 200 anak tangga, akan ditemui pelataran dan Masjid. Pemandangan dari pelataran akan nampak sangat indah di pagi hari.

Disalin dari Wikipedia

Ki Nartosabdo – Sang Maestro Budayawan Jawa

Ki Narto Sabdo
Ki Nartosabdo (lahir di Klaten, 25 Agustus 1925 – meninggal di Semarang, 7 Oktober 1985 pada umur 60 tahun) adalah seorang seniman musik dan dalang wayang kulit legendaris dari Jawa Tengah, Indonesia. Salah satu dalang ternama saat ini, yaitu Ki Manteb Soedharsono mengakui bahwa Ki Nartosabdo adalah dalang wayang kulit terbaik yang pernah dimiliki Indonesia dan belum tergantikan sampai saat ini.
Nama asli Ki Nartosabdo adalah Soenarto. Merupakan putra seorang perajin sarung keris bernama Partinoyo. Kehidupan masa kecilnya yang serba kekurangan membuat Soenarto putus sekolah dalam pendidikan formalnya, yaitu Standaard School Muhammadiyah atau SD 5 tahun.
Kehidupan ekonomi yang serba sulit membuat Soenarto bekerja membantu pendapatan keluarga melalui bakat seni yang ia miliki. Antara lain ia pernah menjadi seorang pelukis, juga sebagai pemain biola dalam orkes keroncong Sinar Purnama. Bakat seni tersebut semakin berkembang ketika Sunarto dapat melanjutkan sekolah di Lembaga Pendidikan Katolik.
Pada tahun 1945 Soenarto berkenalan dengan pendiri grup Wayang Orang Ngesti Pandowo, yaitu Ki Sastrosabdo. Sejak itu ia mulai mengenal dunia pedalangan di mana Ki Sastrosabdo sebagai gurunya. Bahkan karena jasa-jasanya membuat banyak kreasi baru bagi grup tersebut, Soenarto memperoleh gelar tambahan “Sabdo” di belakang nama aslinya. Gelar itu diterimanya pada tahun 1948, sehingga sejak saat itu namanya berubah menjadi Nartosabdo.
Meskipun berasal dari Jawa Tengah, namun Ki Nartosabdo muncul pertama kali sebagai dalang justru di Jakarta, tepatnya di Gedung PTIK yang disiarkan secara langsung oleh RRI pada tanggal 28 April 1958. Lakon yang ia tempilkan saat itu adalah Kresna Duta. Pengalaman pertama mendalang tersebut sempat membuat Ki Narto panik di atas pentas karena pada saat itu pekerjaannya yang sesungguhnya ialah pengendhang grup Ngesti Pandowo
Ki Narto sejak remaja sudah menggemari para dalang ternama, seperti Ki Ngabehi Wignyosoetarno dari Sala dan Ki Poedjosoemarto dari Klaten. Ia juga tekun membaca berbagai buku tua. Kepala Studio RRI waktu itu, Sukiman menawari Ki Narto untuk mendalang, sehingga jadilah pertunjukan di PTIK tersebut.
Penampilan perdana itu langsung mengangkat nama Ki Narto. Berturut-turut ia mendapat kesempatan mendalang di Solo, Surabaya, Yogya, dan seterusnya. Lahir pula cerita-cerita gubahannya, seperti Dasa Griwa, Mustakaweni, Ismaya Maneges, Gatutkaca Sungging, Gatutkaca Wisuda, Arjuna Cinoba, Kresna Apus, dan Begawan Sendang Garba. Semua itu ia dapatkan karena banyak belajar sendiri, tidak seperti dalang lain yang pada umumnya lahir dari keturunan dalang pula, atau ada pula istilah dalang kewahyon (mendapat wahyu).
Karena sering mementaskan lakon carangan Ki Narto pun sering mendapat banyak kritik. Ia juga dianggap terlalu menyimpang dari pakem, antara lain berani menampilkan humor sebagai selingan dalam adegan keraton yang biasanya kaku dan formal. Namun kritikan-kritikan tersebut tidak membuatnya gentar, justru semakin banyak berkarya.
Ki Nartosabdo dapat dikatakan sebagai pembaharu dunia pedalangan di tahun 80-an. Gebrakannya dalam memasukkan gending-gending ciptaannya membuat banyak dalang senior yang memojokkannya. Bahkan ada RRI di salah satu kota memboikot hasil karyanya. Meskipun demikian dukungan juga mengalir antara lain dari dalang-dalang muda yang menginginkan pembaharuan di mana seni wayang hendaknya lebih luwes dan tidak kaku.
Selain sebagai dalang ternama, Ki Narto juga dikenal sebagai pencipta lagu-lagu Jawa yang sangat produktif. Melalui grup karawitan bernama Condong Raos yang ia dirikan, lahir sekitar 319 buah judul lagu (lelagon) atau gending, antara lain Caping Gunung, Gambang Suling, Ibu Pertiwi, Klinci Ucul, Prau Layar, Ngundhuh Layangan, dan Rujak Jeruk.

Disalin dari KlatenOnline.com

Resep Masakan Khas Klaten

Di kala hujan dan perut mulai keroncongan, saya mulai iseng-iseng browsing dan menemukan sesuatu. Dan inilah yang menarik perhatian saya. Setelah dulu menulis tentang kuliner klaten, sekarang menemukan tentang resep masakan dari Klaten. Beberapa resep masakan khas kota saya, Klaten. Dan inilah resep makanannya

Resep Masakan-Resep Jawa Tengah– Ayam Panggang Khas Klaten

Bahan Resep Ayam Panggang Khas Klaten

Bahan:
1 ekor ayam, potong 4 bagian
400 ml santan
2 lembar daun salam
3 cm lengkuas, dimemarkan
50 gram gula merah
1 sendok teh garam
Bumbu halus:
8 butir bawang merah
5 siung bawang putih
7 butir kemiri
1 tangkai serai

Cara Membuat Ayam Panggang Khas Klaten

Rebus santan bersama salam, lengkuas, garam, gula merah, bumbu halus hingga mendidih.
Masukkan potongan ayam lalu masak sampai terserap.
Panggang ayam sambil dioles bumbu sampai kering dan matang.
untuk 4 porsi

Resep Masakan-Resep Jawa Tengah– Entok Rica Khas Klaten

Bahan Resep Entok Rica Khas Klaten

Bahan:
1 ekor entok dipotong 8 bagian
1 sendok makan air jeruk nipis
400 ml air
2 sendok makan minyak goreng
1 sendok teh gula pasir
1 sendok teh garam
Bumbu halus:
5 buah cabai merah
8 butir bawang merah
3 siung bawang putih
2 cm jahe
1 buah tomat

Cara Membuat Entok Rica Khas Klaten

Panaskan minyak lalu masukkan gula pasir. Aduk hingga larut.
Masukkan bumbu halus, garam, entok, dan air jeruk nipis.
Setelah entok berubah warna, tuangkan air.
Masak hingga entok lunak. Bila perlu, boleh ditambahkan air.
Panggang entok sebentar lalu sajikan dengan nasi hangat.
untuk 8 potong

Hmmm….Jadi inget rumah…..